src=”http://jaen2006.files.wordpress.com/2009/05/perpust.jpg” alt=”perpust” title=”perpust” width=”134″ height=”79″ class=”alignleft size-full wp-image-266″ />Geeorge Makdisi menyebutan bahwa ada 6 istilah yang digunakan secara terpadu untuk menggambarkan perpustakan. Tiga pertama adalah bayth (kamar/ruang), khizanah (lemari), dan dar (rumah), sedangkan tiga kedua adalah hikmah (kebijakan), ilm (ilmu) dan kutub (buku-koleksi).

Ini cukup beralasan, dengan keenam istilah ini maka dalam peradaban muslim dikenal bayth al hikmah, dar al hikmah, bayth al kutub dan yang semacamnya. Perpustakaan terbesar dalam dunia Islam adalah bayth al hikmah yang didirikan harun al Rasyid pada 830 M. Disinilah, perpustakaan, lembaga riset dan biro penerjemahan digabungkan. Adalah Al Kindi (807-973M), filosof Islam pertama yang menerjemahkan karya Aristoteles ke bahasa Arab merupakan orang yang aktif mengelola perpustakaaan ini. Selain beliau ada Musa Al Khawarizm, sang penemu al jabar pun bergelut dengan bayth al hikmah. Baca entri selengkapnya »

Teknik Wawancara Referensi

Agustus 12, 2008

Sebelum penulis menguraikan tentang teknik wawancara referensi dan negosiasi, ada baiknya kita menelaah kembali pengertian, tujuan dan fungsi layanan referensi, sebab ini penting sebagai latar belakang kita dalam memahami lebih jauh mengenai layanan referensi. Dalam aktifitasnya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya, perpustakaan mengupayakan pemberian layanan prima pada masyarakat, diantaranya dengan memberikan layanan referensi. Batasan referensi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) berarti sumber acuan, rujukan atau petunjuk. Secara lebih luas lagi referensi berarti buku-buku yang dianjurkan untuk dibaca, seperti yang tertulis di akhir suatu karangan atau tulisan. Baca entri selengkapnya »

Akukah Pustakawan itu?

Juli 17, 2007

Oleh: M. Djaenudin

Tulisan ini adalah pemenang ke-2 lomba karya tulis atau opini yang diselenggarakan oleh PDII-LIPI dalam rangka ulang tahunnya ke-42  (1 Juni 1965 – 1 Juni 2007).

Ketika penulis diminta untuk menyampaikan masukan terhadap institusi PDII,  dalam benak yang ingin  saya sampaikan adalah sekitar kebijakan-kebijakan, citra PDII, sampai kepada masalah kesejahteraan. Begitulah kiranya yang ingin saya sampaikan, namun dalam kesempatan ini saya hanya ingin mencukil sedikit dari aspek profesionalisme pustakawan  teman-teman sejawat.Terus terang pada awalnya penulis menjadi seorang pustakawan sebagai profesi pilihan dilatarbelakangi oleh keberadaan saya ketika mulai masuk PDII ditempatkan di unit kerja perpustakaan dan itu tidak secara otomatis menjadi seorang pustakawan. Hal tersebut karena terhambat oleh Surat Keputusan MENPAN Nomor 18 Tahun 1988 yang direvisi melalui Surat Keputusan MENPAN Nomor 33 Tahun 1998,  mewajibkan seorang pustakawan adalah pegawai yang berijazah sekurang-kurangnya Diploma II atau Sarjana Muda. Lain halnya dengan teman-teman generasi awal yang menjadi pustakawan pertama kali melalui proses inpassing. Walaupun pegawai berijazah SLTA dan sudah berpangkat/golongan Pengatur Muda Tk. I-II/b, maka pada saat itu bisa mengajukan sebagai pustakawan. Berutunglah teman-teman yang termasuk melalui proses ini. Dewasa ini tercatat sekitar 4.000–5.000-an pustakawan fungsional,  namun 60-70 % merupakan pustakawan inpassing. Ini berarti bahwa, mereka belum mengenyam pendidikan formal pustakawan sebagaimana disyaratkan oleh perundang-undangan. Penulis sendiri akhirnya bisa menjadi pustakawan melalui proses yang panjang setelah memperoleh ijazah Diploma II Ilmu Perpustakaan dan memperoleh tunjangan gaji fungsional pustakawan. Baca entri selengkapnya »

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah yang maha Mulia. Yang mengajar
manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(Surah Al ‘Alaq, 96:1-5)

Inilah wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW yakni *Iqro!*(Bacalah!). Tersirat bahwa aktivitas membaca adalah hajat manusia sepanjang zaman. Hajat yang mesti dipenuhi dengan memadai demi keparipurnaan  manusia sebagai *khalifah fil ardh* (pemimpin di muka bumi). Tak heran bila para pemimpin dunia maupun tokoh-tokoh terkemuka yang kita kenal adalah orang-orang yang gemar membaca. Misalnya, Bung Hatta, yang ketika diasingkan ke Pulau Banda tak lupa membawa serta satu lemari besar buku-bukunya.Abraham Maslow, sang psikolog Amerika yang menggagas teori hirarki
Kebutuhan adalah anak yang besar di perpustakaan semasa kecilnya karena ia
Dikucilkan dari pergaulan karena tampangnya yang tidak keren. Namun, amat disayangkan budaya baca bangsa Indonesia secara umum belum setara dengan kegemaran masyarakatnya nonton dan *ngobrol*. Terlepas dari besarnya pajak buku dan variatifnya acara TV minat baca masyarakat  memang relatif menyedihkan. Membludagnya pengunjung pameran buku dalam sebuah *event* tertentu mungkin sebuah pengecualian. Tetapi dalam keseharian budaya * ngobrol* masih sangat dominan. Sangat jarang, misalnya, di tempat-tempat
umum kita jumpai orang duduk membaca sambil menunggu kereta atau bus.
Kalaupun ada, umumnya para pelajar atau mahasiswa yang *kebelet* ujian.
Selebihnya hanyalah obrolan *ngalor-ngidul* yang kita lakukan.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang yg gemar membaca. Karena otomatis kecerdasan dan wawasan iptek kian bertambah sehingga terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk upaya pembangunan yang berkesinambungan. Marilah berkaca pada Jepang yang pada masa Restorasi Meiji (tahun 1800-an) melakukan program penerjemahan buku besar-besaran. Buku-buku yang pekan ini terbit di Amerika, negara adikuasa yang mengalahkan sekaligus menjadi induk semang Jepang pasca Perang Dunia II, pada pekan berikutnya sudah terbit di Jepang dalam versi terjemahannya. Alhasil, Jepang sangat cepat menyerap teknologi dan
inovasi mutakhir dari negara-negara Barat dan tumbuh pesat setelah luluh-lantak dibom atom pada 1945 menjadi pesaing ekonomi Amerika mulai 1960an hingga saat ini. Lantas, jika tingginya tingkat minat baca terkait erat dengan kualitas SDM, patutlah kita merenung apakah masyarakat kita dapat digolongkan sebagai *reading society* (masyarakat yang membaca) seperti negara-negara maju yang kerap kita jadikan rujukan?
Baca entri selengkapnya »

 Oleh: M. Djaenudin

Islam adalah agama yang menaruh perhatian besar pada tulis-menulis sejak awal mulanya. Keterlibatan inilah yang mendorong cepatnya Islam menyebar ke daerah-daerah yang kaya akan buku dan perpustakaan kuno. Mereka menemukan papyrus (lontar) dari Mesir dan menggali naskah-naskah kuno di daerah-daerah Telloh, Ur, Warka, Niniveh. Ugarit dan yang paling akhir Ebla yang terletak di wilayah Mesopotamia dan Mesir pada sekitar 2000 – 3000 SM. Mereka menemukan pula Perpustakaan Agung (Great Library) di Alexandria yang paling terkenal pada dunia kuno dimana sedikit banyak merupakan bentuk dasar perpustakaan yang ada sekarang. Memang tidaklah mengherankan apabila kecintaan pada buku menjadi karakteristik dunia Islam sejak masa awalnya karena per buatan itu yang disertai dengan pendirian banyak perpustakaan dianggap sebagai per- buatan amal shalih dan amat terpuji. Tapi amat disayangkan perpustakaan pada tahun-tahun permulaan Islam tidaklah banyak diketahui sampai dengan dikenalnya kertas dari Cina. Pengolahan kertas yang jauh lebih murah ketimbang papyrus yang sudah mulai langka membuat jumlah sirkulasi buku menjadi berlipat karena otomatis harga buku turun drastis. Akibatnya perpustakaan di dunia Islam dapat memiliki puluhan sampai ratusan ribu buku sedangkan perpustakaan di Dunia Barat hanya mempunyai puluhan atau ratusan buku saja pada waktu yang sama. Perpustakaan besar Islam yang pertama didirikan pada awal abad IX M oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Perpustakaan itu dikenal dengan sebutan “Dar al Ulum” atau “Bait al-Hikmah” yaitu suatu lembaga menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Karena alasan ini dan terbuka bagi semua orang yang cakap menggunakannya, Baitul Hikmah telah mendatangkan efek yang panting bagi kehidupan intelektual waktu itu serta menjadi referensi umum. Bahkan Raja Louis XI dari Perancis sewaktu dalam perjalanan Perang Salib, mendapat ide dari pemikiran perpustakaannya yang pertama di Paris, yang merupakan cikal-bakal dan “Bibliotheque Nationale” masa kini itu dari perpustakaan-perpustakaan Islam di kawasan Laut Tengah. Akan tetapi perpustakaan itu baru terwujud beberapa abad kemudian.  Baca entri selengkapnya »