Jatuh Cinta Lagi?
Maret 26, 2007
Oleh: Helvy Tiana Rosa
Belum lama ini seorang teman bercerita bahwa ia merasa “hidup”
karena ia jatuh cinta lagi!
“Lho, suami Mbak gimana?”
Dengan merendahkan suara dan melirik kiri kanan untuk meyakinkan
diri tak ada orang lain yang mendengar selain saya, ia berkata: “Dengan
suami ya biasa aja. Dia dan anak-anak nggak ada yang tahu. Yang bikin
aku senang, pria itu juga jatuh cinta padaku!”
“Dia sudah punya istri, Mbak?”
“Sudah juga. Eh, tahu nggak, kami sudah sepakat, hubungan ini adalah
hubungan tanpa target!”
Saya mengernyitkan kening.
“Kami hanya menjalani saja. Lagi pula kami nggak pernah
ngapa-ngapain kok, Vy. Paling janjian ketemu di mana, ngobrol.
Gitu aja. Dia santun banget,” mata teman saya berinar-binar.
“Pokoknya kami menyiasati pertemuan kami. Jangan sampai
melukai pasangan kami masing-masing. ” Baca entri selengkapnya »
Suami Mencintai Istri
Maret 7, 2007
Suami kepada istri di awal pernikahan demikian mesra bergaul. Kata-katanya pun diatur sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang primadona. Setiap benda atau simbol maknawi dikomunikasikan dengan bahasa lubuk hati. Rasa kasih namanya. Begitu pula sang istri menanggapi tutur dan sikap kasih suami dengan penuh sentimentil. Yang berbicara bukan lagi logika tapi lubuk kalbu. Oh, betapa indahnya hidup ini. Inilah gambaran hidup sang pengantin baru. Mungkinkah kasih sayang tertambat abadi dalam lubuk hati yang dalam ? Bagi pasangan muslim, gambaran cinta mesra adalah suatu yang sakral. Ia perlu dipertahankan, menutupi ketidaksukaan suami kepada kelemahan istri menjadi suatu kewajiban nilai. Bukan sekedar ungkapan di bibir. “Dia tidak pernah mencela suatu makanan, jika dia suka ia makan, dan jika dia benci dia meninggalkannya” (HR Bukhari Muslim)Kisah Aisyah dengan Rasulullah menjadi buah ibroh (pelajaran) teladan. Betapa Rasulullah mencaga cinta kasih dengan Aisyah selama mata belum berkatup. Ketika kaum Habsyi bermain tombak di masjid, Rasulullah bersikap duhai mesra. Beliau mendedahkan kain sebagai hijab berlobang, agar Aisyah bisa menonton pertunjukan heroik tersebut. Aisyah melihat pertunjukan dari balik leher/tengkuk, agar sesekali bisa bersentuhan dengan dada Rasulullah.
Kisah lain, betapa Rasulullah bermain mesra. Lomba berlari. Sesekali Rasulullah berlari dengan lambat tapi pasti mengalahkan Aisyah. Sesekali beliaupun mengalah demi suka ria Aisyah, demi membahagiakan istri. Inilah gambaran hidup ideal dan nyata. Rasulullah melaksanakannya dengan istri-istrinya. Kadang Aisyah pun iri pada sikap Rasul yang membanggakan Khadijah. Istri pertama beliau ini memberi kehangatan hidup, membela lahir dan batin, dikala rumah tangga jihad bergelombang. Khadijah lebih banyak mendapat duka dalam liku-liku pembentukan Qo’idah Ash-Sholbah. Baca entri selengkapnya »