Awas Demam Riya!

Mei 25, 2007

Rasulullah sangat khawatir dengan penyakit ini. Sebab, ia lebih berbahaya dari demam berdarah atau penyakit hati yang kini menjadi “pembunuh” nomor satu .
Suatu ketika, di yaumil akhir, berlangsung pengadilan terhadap tiga orang laki-laki. Yang pertama kali diadili adalah orang yang gugur sebagai syahid. Ia kemudian dipanggil oleh Allah.

Kepadanya kemudian diperlihatkan amal perbuatannya. Ia pun mengakui perbuatannya ketika berperang membela agama hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Kemudian Allah bertanya:
“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkannya (mati syahid).”
“Aku berperang demi (mendapat) ridha-Mu hingga aku gugur di
medan jihad,” jawab lelaki itu.

“Kamu berdusta,” sergah Allah. “Kamu berperang agar dikatakan pemberani dan sungguh kamu telah mendapatkannya, ” sambung Allah lagi. Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.

Selanjutnya Allah memanggil orang yang kedua, yakni seorang lelaki yang tekun menuntut ilmu dan mengajarkannya. Ia juga rajin membaca Al-Quran. Seperti yang pertama, ia pun diperlihatkan amal perbuatannya. Setelah ia mengenalinya, Allah bertanya:
“Apa yang telah kamu perbuat dengannya (menuntut ilmu)?”
“Saya menuntut ilmu, mengajarkannya kepada yang lain dan membaca Al-Quran  demi Engkau, ya Allah,” jawab lelaki itu.

“Kamu berdusta!” kata Allah berfirman. “Kamu menuntut ilmu agar dibilang orang pandai dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan sebagai qori yang bagus (bacaannya), dan sungguh kamu telah memperolehnya, ” ungkap Allah.

Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke neraka. Baca entri selengkapnya »

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah yang maha Mulia. Yang mengajar
manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(Surah Al ‘Alaq, 96:1-5)

Inilah wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW yakni *Iqro!*(Bacalah!). Tersirat bahwa aktivitas membaca adalah hajat manusia sepanjang zaman. Hajat yang mesti dipenuhi dengan memadai demi keparipurnaan  manusia sebagai *khalifah fil ardh* (pemimpin di muka bumi). Tak heran bila para pemimpin dunia maupun tokoh-tokoh terkemuka yang kita kenal adalah orang-orang yang gemar membaca. Misalnya, Bung Hatta, yang ketika diasingkan ke Pulau Banda tak lupa membawa serta satu lemari besar buku-bukunya.Abraham Maslow, sang psikolog Amerika yang menggagas teori hirarki
Kebutuhan adalah anak yang besar di perpustakaan semasa kecilnya karena ia
Dikucilkan dari pergaulan karena tampangnya yang tidak keren. Namun, amat disayangkan budaya baca bangsa Indonesia secara umum belum setara dengan kegemaran masyarakatnya nonton dan *ngobrol*. Terlepas dari besarnya pajak buku dan variatifnya acara TV minat baca masyarakat  memang relatif menyedihkan. Membludagnya pengunjung pameran buku dalam sebuah *event* tertentu mungkin sebuah pengecualian. Tetapi dalam keseharian budaya * ngobrol* masih sangat dominan. Sangat jarang, misalnya, di tempat-tempat
umum kita jumpai orang duduk membaca sambil menunggu kereta atau bus.
Kalaupun ada, umumnya para pelajar atau mahasiswa yang *kebelet* ujian.
Selebihnya hanyalah obrolan *ngalor-ngidul* yang kita lakukan.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang yg gemar membaca. Karena otomatis kecerdasan dan wawasan iptek kian bertambah sehingga terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk upaya pembangunan yang berkesinambungan. Marilah berkaca pada Jepang yang pada masa Restorasi Meiji (tahun 1800-an) melakukan program penerjemahan buku besar-besaran. Buku-buku yang pekan ini terbit di Amerika, negara adikuasa yang mengalahkan sekaligus menjadi induk semang Jepang pasca Perang Dunia II, pada pekan berikutnya sudah terbit di Jepang dalam versi terjemahannya. Alhasil, Jepang sangat cepat menyerap teknologi dan
inovasi mutakhir dari negara-negara Barat dan tumbuh pesat setelah luluh-lantak dibom atom pada 1945 menjadi pesaing ekonomi Amerika mulai 1960an hingga saat ini. Lantas, jika tingginya tingkat minat baca terkait erat dengan kualitas SDM, patutlah kita merenung apakah masyarakat kita dapat digolongkan sebagai *reading society* (masyarakat yang membaca) seperti negara-negara maju yang kerap kita jadikan rujukan?
Baca entri selengkapnya »

Oleh: Sofyan Siroj Aw, Lc, MM
Hubbud Dunia (Cinta Dunia). Itulah sebuah judul besar penyakit yang menghinggapi banyak umat hari ini. Eksistensi dunia melebihi eksistensi Allah. Celakanya lagi, bahkan banyak manusia yang sudah merusak fitrahnya sebagai makhluk. Dengan menuhankan dunia. Na’udzubillahi mindzaliq. Semoga hal yang demikian ini terhindar dari diri kaum muslimin dan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang masih meninggikan asma-Nya, dan memuliakan kekasihnya, Muhammadur rasulullahu salallahu ’alaihi wasallam.Penyakit cinta dunia dan takut mati memang bukan hari ini saja terjadi. Ini adalah kisah dan perilaku yang berulang-ulang. Tentu ingat bagaimana Fir’aun (Ramses II) yang menganggap dirinya Tuhan. Berkuasa penuh atas diri manusia. Tapi, ketika maut menjemputnya (tatkala ia digulung lautan saat mengejar nabi Musa as), barulah ia bermunajat pada Allah swt. Sayang, semuanya terlambat. Hanya saja, tubuhnya hingga kini tetap dijaga oleh Allah, sebagai pelajaran bagi umat di kemudian hari.Dasar penyakit, cinta dunia hingga kini masih saja terus berulang. Wujud dan bentuknya beragam. Namun, pada prinsipnya, cinta dunia selalu dipicu oleh materi. Sehingga, banyak manusia hari ini berlomba-lomba mencari rezki tanpa mengenal siang dan malam. Kerja keras siang malam, pergi pagi pulang malam, peras keringat banting tulang demi dunia. Sayang, mereka lupa dengan Maha Pemilik Materi, Allah ’Azza wa Jalla. Tak takutkah mereka dengan azab Allah?Obatnya segeralah bertobat. Kembalilah mencintai Allah dengan tidak menafikan dunia. Karena sungguh besar manfaatnya untuk jiwa dan raga. Syurga balasannya bagi orang yang mau mencintai Allah. Tapi tidak pula mencintai Allah dengan jalan riya’. Cintailah Allah dengan ikhlas. Zuhud-lah kepada Allah, seperti halnya Muhammad saw yang hingga akhir hayatnya memilih menjadi anak-anak langit, bukan anak-anak dunia. Baca entri selengkapnya »