Perjalanan Hidup Manusia
Maret 29, 2007
Oleh: Imam Santoso, Lc.
Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu.
Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. berfungsi untuk memberikan pedoman bagi umat manusia tentang perjalanan (rihlah) tersebut. Suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia, tanpa kecuali. Manusia yang diciptakan Allah swt. dari tidak ada menjadi ada akan terus mengalami proses panjang sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah swt.
Saat ini ada dua teori yang menyesatkan orang banyak. Al-Qur’an dengan tegas membantah teori itu. Pertama, teori yang mengatakan manusia ada dengan sendirinya. Dibantah Al-Qur’an dengan hujjah yang kuat, bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Allah swt. Kedua, teori yang mengatakan manusia ada dari proses evolusi panjang, yang bermula dari sebangsa kera kemudian berubah menjadi manusia. Teori ini pun dibantah dengan sangat pasti bahwa manusia pertama adalah Adam as. Kemudian selanjutkannya anak cucu Adam as. diciptakan Allah swt. dari jenis manusia itu sendiri yang berasal dari percampuran antara sperma lelaki dengan sel telur wanita, maka lahirlah manusia.
Rasulullah saw. semakin mengokohkan tentang kisah rihlatul insan. Disebutkan dalam beberapa haditsnya. “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari). Dalam hadits lain: ”Untuk apa dunia itu bagiku? Aku di dunia tidak lebih dari seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya” (HR At-Tirmidzi). Baca entri selengkapnya »
Jatuh Cinta Lagi?
Maret 26, 2007
Oleh: Helvy Tiana Rosa
Belum lama ini seorang teman bercerita bahwa ia merasa “hidup”
karena ia jatuh cinta lagi!
“Lho, suami Mbak gimana?”
Dengan merendahkan suara dan melirik kiri kanan untuk meyakinkan
diri tak ada orang lain yang mendengar selain saya, ia berkata: “Dengan
suami ya biasa aja. Dia dan anak-anak nggak ada yang tahu. Yang bikin
aku senang, pria itu juga jatuh cinta padaku!”
“Dia sudah punya istri, Mbak?”
“Sudah juga. Eh, tahu nggak, kami sudah sepakat, hubungan ini adalah
hubungan tanpa target!”
Saya mengernyitkan kening.
“Kami hanya menjalani saja. Lagi pula kami nggak pernah
ngapa-ngapain kok, Vy. Paling janjian ketemu di mana, ngobrol.
Gitu aja. Dia santun banget,” mata teman saya berinar-binar.
“Pokoknya kami menyiasati pertemuan kami. Jangan sampai
melukai pasangan kami masing-masing. ” Baca entri selengkapnya »
Memuliakan Wanita
Maret 21, 2007
Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, ” Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu! “
Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.
Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.
Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.
Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.
Baca entri selengkapnya »
Generasi Yang Hilang
Maret 9, 2007
Munsyid : Teater Kanvas
http://liriknasyid.com
*O Generasi yang hilang
Korban perang peradaban
Apa arti ilmu pengetahuan
Tanpa takwa dan iman
Dimeja makan dan mangkok supmu
Kuhidangkan kisah negri terluka
Orang – orang berjamaah di plasa – plasa
Diskotik dan bar jadi rumah suci
Tuk tumpahkan duka dan sakit hati
back to *
Di sini aku berdiri
Di meja makan dan mangkok supmu
Menahan garpu – garpu keserakahanmu
Yang terus menghujam melahap hutan
Mengibarkan berjuta film kebinalan
back to *
Anak anak sekolah berangkat untuk tawuran
Berbekal poster Madona dan mimpi kura – kura ninja
Mereka susuri jalan – jalan masa depan
Penuh ancaman dan topeng – topeng kemunafikan
back to *
Sarjana – sarjana dengan toga dikepalanya
Berbaris bagai robot
Meninggalkan masyarakatnya
Mengejar mimpi televisi seolah tak akan mati
back to *
Dimeja makan dan mangkok supmu
Kuhidangkan kisah negri terluka
Kisah generasi yang hilang
Korban perang peradaban
Tak kalah luka dari bosnia
Tak kalah perih dari palestina
Tak kalah luka dari bosnia
Tak kalah perih dari palestina
Karena yang kau temui hanya zombi – zombi
Makhluk – makhluk hidup tanpa probadi
Tanpa izah tanpa harga diri
back to *
Tanpa takwa dan iman
Ashabul Kahfi
Maret 9, 2007
Artist: Raihan
Album: Demi Masa
Song Category: Nasyid
Tercatat sudah dalam sejarah
Tujuh pemuda yang beriman
Melarikan diri kedalam gua
Demi menyelamatkan iman
Disangka tidur hanya sehari
Rupanya 309 tahun
Zaman bertukar beberapa kurun
Di bumi bersejarah Urdhu
Begitulah kuasa Ilahi
Kepada ashabhul kahfi
Tiada mustahil di dunia ini
Jika kita beriman dan bertakwa
Tercatat sudah dalam sejarah
Tujuh pemuda yang beriman
Tulang belulang berserakan
Tulah dari binatang tunggangan
Juga anjing yang dinjanjikan surga
Qitmir yang mulia
Suami Mencintai Istri
Maret 7, 2007
Suami kepada istri di awal pernikahan demikian mesra bergaul. Kata-katanya pun diatur sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang primadona. Setiap benda atau simbol maknawi dikomunikasikan dengan bahasa lubuk hati. Rasa kasih namanya. Begitu pula sang istri menanggapi tutur dan sikap kasih suami dengan penuh sentimentil. Yang berbicara bukan lagi logika tapi lubuk kalbu. Oh, betapa indahnya hidup ini. Inilah gambaran hidup sang pengantin baru. Mungkinkah kasih sayang tertambat abadi dalam lubuk hati yang dalam ? Bagi pasangan muslim, gambaran cinta mesra adalah suatu yang sakral. Ia perlu dipertahankan, menutupi ketidaksukaan suami kepada kelemahan istri menjadi suatu kewajiban nilai. Bukan sekedar ungkapan di bibir. “Dia tidak pernah mencela suatu makanan, jika dia suka ia makan, dan jika dia benci dia meninggalkannya” (HR Bukhari Muslim)Kisah Aisyah dengan Rasulullah menjadi buah ibroh (pelajaran) teladan. Betapa Rasulullah mencaga cinta kasih dengan Aisyah selama mata belum berkatup. Ketika kaum Habsyi bermain tombak di masjid, Rasulullah bersikap duhai mesra. Beliau mendedahkan kain sebagai hijab berlobang, agar Aisyah bisa menonton pertunjukan heroik tersebut. Aisyah melihat pertunjukan dari balik leher/tengkuk, agar sesekali bisa bersentuhan dengan dada Rasulullah.
Kisah lain, betapa Rasulullah bermain mesra. Lomba berlari. Sesekali Rasulullah berlari dengan lambat tapi pasti mengalahkan Aisyah. Sesekali beliaupun mengalah demi suka ria Aisyah, demi membahagiakan istri. Inilah gambaran hidup ideal dan nyata. Rasulullah melaksanakannya dengan istri-istrinya. Kadang Aisyah pun iri pada sikap Rasul yang membanggakan Khadijah. Istri pertama beliau ini memberi kehangatan hidup, membela lahir dan batin, dikala rumah tangga jihad bergelombang. Khadijah lebih banyak mendapat duka dalam liku-liku pembentukan Qo’idah Ash-Sholbah. Baca entri selengkapnya »