HANYA SATU KATA “BANJIR”
Februari 26, 2007
Oleh: M. Djaenudin
Jumat, 2 Pebruari 2007 saya datang ke kantor dalam keadaan hujan lebat dan terlihat semua kawasan Jabodetabek diselimuti awan tebal . Dalam perjalanan ada firasat “jangan-jangan kantor kebanjiran” seperti tahun 2002 atau 1996. Begitu sampai di kantor ternyata dugaan saya benar. Halaman kantor air sudah setinggi lutut orang dewasa. Saya berusaha masuk lewat jembatan yang menghubungkan lantai 2 yaitu ruangan untuk pertemuan yang bisa dilalui dari kantor sebelah yang ketika itu masih belum seberapa air yang menggenangi. Akhirya saya bisa masuk ke ruangan itu. Sambil melihat-lihat ke bawah ternyata barang-barang yang ada di lantai 1 banyak yang belum dievakuasi. Beberapa atasan juga sudah berada di sana. Ketika itu juga diputuskan oleh mereka bahwa, untuk sementara waktu kantor diliburkan sampai beberapa hari/minggu karena tidak mungkin aktifitas kantor berjalan dengan normal. Banjir yang melanda kantor kali ini ketinggian air mencapai 2 meter. Kondisinya benar-benar memprihatinkan, segala macam fasilitas kantor banyak yang rusak. Terutama fasilitas listrik yang membutuhkan waktu yang lama untuk diperbaiki. Bagaimana dengan cerita kantor anda? Secara umum hujan lebat di Jabodetabek dalam dua pekan di awal Pebruari 2007 mengakibatkan banjir di hampir sebagian besar wilayah ibu kota. Aktivitas warga lumpuh total. Air yang menggenangi DKI Jakarta melumpuhkan fasilitas umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Fasilitas umum ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kota se-Jabodetabek saja, tetapi juga menyangkut hajat hidup masyarakat seluruh Indonesia. Akibat banjir tersebut saluran komunikasi terputus, listrik padam serta sarana transportasi tidak jalan.
Sejumlah kawasan pun tidak bisa diakses akibat jalur transportasi terputus. Karena itu banyak orang terperangkap di kantor, tidak bisa pulang, bahkan mungkin ada yang menjadi korban. Korban jiwa, kehilangan harta benda, dan rusaknya fasilitas infrastruktur, sudah tidak dapat terhitung lagi akibat banjir yang terjadi. Belum lagi penyakit pasca banjir yang dipastikan akan datang menghampiri warga korban banjir. Infeksi saluran pernafasan, kulit gatal-gatal merupakan jajaran penyakit langganan yang menghinggapi warga yang terkena banjir terutama anak-anak.
Warga yang tadinya tinggal di daerah yang aman dari banjir, terkaget-kaget saat banjir menyapa mereka, padahal selama ini tenang-tenang saja setiap kali musim hujan tiba. Semua tersentak. Saling tuding kembali terjadi. Pemerintah disalahkan karena mudah tergiur mengalihfungsikan lahan sehingga daerah resapan air semakin minim. Masyarakat juga disalahkan karena membuang sampah sembarangan hingga hidup di bantaran kali. Pengusaha pun tidak luput dari tudingan karena dengan caranya yang “licik” bisa membangun bisnis atau perumahan di lahan yang tidak sesuai peruntukannya.
Berdasarkan analisis, banjir kali ini menyebabkan kerugian total senilai Rp 8,8 triliun. Dari jumlah itu, nilai kerusakan dan kerugian langsung sebesar Rp 5,2 triliun, sementara kerugian tidak langsung mencapai Rp3,6 triliun. Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan,dari kerugian langsung, yang diderita masyarakat mencapai Rp 4,5 triliun, sedangkan pemerintah Rp 650 miliar. ”Jadi, ini hasil final yang dihitung sejak 5 hingga 15 Februari lalu,”kata Paskah di Jakarta,kemarin. Paskah menjelaskan, penilaian yang dibantu UNDP ini menggunakan metode ECLAC (Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Negara-Negara Karibia).
Intinya, semua sadar bahwa bencana yang datang mendera bangsa ini akibat manusia tidak lagi hidup selaras dengan alam. Hanya soal waktu, keserakahan dan ketamakan manusia yang mengeksploitasi alam dan lingkungan tanpa terencana dan terkendali dengan baik akan membuahkan bencana yang menimpa warganya.
Nasi telah menjadi bubur, tapi bagaimana bubur ini menjadi bubur ayam (kata salah seorang Kyai kondang) itulah tugas kita bersama. Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Ini tugas kita bersama untuk memperbaiki kondisi yang melanda di negeri kita. Karena kita tentunya tidak ingin berkali-kali jatuh pada lubang yang sama yang tentunya menelan korban materi maupun non materi yang jumlahnya tak terhitung. Banjir besar seperti lima tahun lalu di wilayah Jakarta dan sekitarnya terulang lagi. Bahkan, kali ini dirasakan lebih parah. Ibu kota negara Republik Indonesia ini sempat lumpuh. Wallahu a’lam

Permisi,,,
Bolehkah saia copy-paste artikel ini untuk pembuatan Karya Tulis sebagai syarat mengikuti UAN SMP???
Konbanwa, thx 4,,,