Usia 40 Tahun

Februari 22, 2007

Akar dan orientasi kultur masyarakat Barat adalah materialisme. Mereka menilai dan membuat indikator hidup dari sisi materialistis. Atas dasar ini tidak mengherankan jika mereka mempunyai ungkapan bahwa ‘hidup’ dimulai pada umur 40 tahun. Life begin at 40.

Asumsinya adalah pada umur ini, karier telah cukup mapan, pendapatan, serta kekayaan telah mencukupi. Karena itu, sering pula pada usia 40 ini dikaitkan dengan puber kedua, yang membawa pada perselingkuhan. Kemapanan materi membawa godaan, sehingga umur 40 tahun merupakan saat kritis terjadi perceraian dalam rumah tangga.

Islam memberi perhatian kepada umur 40 berbeda secara diametrikal dengan budaya Barat. Umur 40 tahun mendapat perhatian khusus dari Alquran. Dalam Surat Al Ahqaf [46] ayat 15 Allah berfirman:

 ”Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Dalam surat tersebut setidaknya terdapat empat indikator kemuliaan manusia yang seharusnya menjadi identitas orang yang mencapai umur 40 tahun yaitu bersyukur, beramal shalih, bertaubat, dan berserah diri.

Bersyukur kepada Allah atas karunia umur yang mengantarkannya mencapai angka 40. Bersyukur atas kenikmatan hidup yang telah dianugerahkan Allah baik berupa kenikmatan material maupun nikmat anak keturunan (dzuriyat). Bersyukur sesuai hakikat bahwa semuanya karena kehendak yang mengikuti nilai-nilai kebaikan yang dikehendaki Allah dan dicontohkan dalam kehidupan Rasul dan para sahabat.

Bertobat disertai kesadaran bahwa manusia mempunyai kalbu yang berbolak-balik antara tarikan kebaikan dan keburukan. Bertobat disertai perenungan dan perhitungan apakah di usia 40 tahun lebih berat kebaikannya atau keburukannya. Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadisnya,

”Sesiapa yang mencapai umur 40 tahun dan dosanya lebih berat dari amal baiknya maka bersiaplah memasuki neraka.”

Berserah diri, merupakan permulaan yang pas untuk menapaki usia 40 tahun. Dengan demikian umur 40 tahun dipandang sebagai pencerahan kejiwaan, gerbang cahaya menuju kehidupan yang lebih mulia.

Di samping itu juga usia 40 tahun berarti jatah usia kita sudah berkurang. Meskipun secara kuantitatif usia kita bertambah. Artinya seandainya jatah usia kita 50 tahun maka, hidup kita tinggal 10 tahun, atau jika jatah usia kita 60 tahun maka, kita tinggal menghitung sendiri, berapa lama kita hidup lagi. Dan seterusnya.

Aneh jika sebagian kita merayakan ulang tahun dengan bangga bernyanyi ria “panjang umurnya,  panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia serta mulia, serta mulia”. Seharusnya kita instrospeksi bahwa, sebenarnya jatah usia kita semakin berkurang dan nilai-nilai kemuliaan harus dijadikan barometer dalam beramal. Wallaahu a’lam.

10 Tanggapan ke “Usia 40 Tahun”

  1. Slamet R berkata

    Mas Djaen,
    Artikel ini sangat bagus sebagai “cambuk” untuk mengintrospeksi diri dalam menata kehidupan fana dan baqa.
    Untuk kita yang sudah mencapai batas usia 40, harus benar-benar mempersiapkan diri dan menghisab diri sebelum dihisab oleh Sang Khalik. Jangan sampai timbangan kita lebih berat dosanya ketimbang pahalanya.

    Salam,
    Slamet R

  2. ranie berkata

    ass.wr.wb…
    mas, aku suka bgt dgn artikel yg mas buat…nah kalo untuk yang akan menginjak umur 60-an,masukan apa yang harus diberikan?

  3. santribuntet berkata

    bagus artikel ini… rasanya memang benar, bahwa 40 tahun umur Nabi saat diangkat menjadi Rasul. Artinya, umur 40 merupakan kematangan seseorang untuk bisa berkontemplasi lebih serius. hidup lebih serius. Semoga kita2 bisa mengambil hikmahnya…

  4. wahyuannisha berkata

    Saya dengar disalah satu radio islam ttg umur 40. Saya coba cari info ttg keistimewaan usia 40 dlm islam. Saya mendapat tulisan anda ini. Yg herannya kok sama persis dg yg dibaca oleh sang penyiar itu ya? Apa tulisan anda pernah muncul di salah satu media?
    Btw syukran atas tausyiahnya :-)

  5. djaenudin berkata

    Na’am tulisan ini ana dapat dari mailinglist Pk-sejatera@yahoogroup.com

  6. undi jaelani berkata

    bagus artikelnya mas,
    mungkin yang paling jauh dari dunia ini adalah masa lalu waktu, adalah waktu- yang mana manusia tidak akan mampu melawannya dan waktu hanya akan ketemu lagi kalau kita isi dengan amal soleh,apalagi kita telah memasuki atau lewat 40 tahun ,haruslah kita bersukur,beramal soleh dan berserah diri.semoga kita dalam mengisi sisa umur kita bisa mengisinya dengan berbagai ibadah dengan ikhlas karena Allah. dan semoga juga kita diberi panjang umur,sehat selalu,dan banyak rejeki biar kita banyak juga ibadah dengan harta,Amiin.

  7. hamdy berkata

    asm,

    saya dari malaysia. saya sedang menulis buku mengenai miang miang lelaki. Saya memohon kebenaran untuk mengambil article saudara utk dimasukkan kedalam topik buku saya.

    terima kasih

    hamdy065@yahoo.com

  8. lestari berkata

    Assalamualaikum wr wb..

    Insya Allah besok usiaku memasuki 40. Usia yg memang benar2 harus dipakai utk memperbanyak ibadah. Smg Allah SWT merestui tekadku utk lebih berserah diri padaNya

  9. burhan berkata

    inti sari ayat tersebut
    1. pandai bersyukur
    2. anak wajib mendoakan orang tuanya (amal jariah anak soleh)
    3. bertaubat
    4. berserah diri.
    ayat tersebut sebaiknya diamalkan oleh teman teman yang sudah berumur 40 tahun

  10. fadlah berkata

    terima kasih, Alhamdulillah bisa baca artikel ini, usiaku sekarang 37 tahun, artikel ini buat barometer kehidupannku ke depan.

Tinggalkan Balasan