1. Setiap ilmunya bertambah, bertambah pula tawadhu’ dan kasih sayangnya.

2. Setiap kali amalnya bertambahnya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya.

3. Setiap kali umurnya bertambah, berkuranglah ketamakan dan kerakusannya.

4. Setiap hartanya bertambah, bertambah pula kedermawanan dan pengorbanannya.

5. Setiap kali kedudukannya bertambah, bertambah pula kedekatannya kepada sesama manusia, dan rendah hati terhadap mereka.

(Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

Baru-baru ini saya diberi kesempatan mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh PDII LIPI. Kegiatan itu diberi nama Pelatihan Bengkel Kerja Menulis. Ada hal-hal yang menarik dari kegiatan ini, selain menambah wawasan juga dapat membangkitkan kepercayaan diri dalam menulis. Saya mengucapkan terima kasih kepad Ibu Jusni Djatin selaku Kepala PDII LIPI yang memberi kepercayaan kepada saya. Berikut kesimpulan yang dapat saya sampaikan selama mengikuti pelatihan:

Pelatihan menulis ini dilakukan dengan kesadaran bahwa kemampuan menulis dapat berkembang setelah ada minat dan keterampilan dasar yang memadai. Keduanya akan menimbulkan rasa percaya diri dan inisiatif menulis. Selain itu juga adanya faktor dari dalam maupun dari luar.
Pelatihan Bengkel Kerja Menulis PDII LIPI diselenggarakan dengan tujuan mendorong pengembangan minat membangun keterampilan menulis. Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah:
1. Mengembangkan minat, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam menulis mengenai pekerjaan dan pengetahuan di bidang masing-masing peserta.
2. Menghasilkan karya tulis dalam berbagai bentuk, terutama yang dapat meningkatkan profesionalisme.
3. Mengidentifikasi dan mengumpulkan tulisan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan disebarluaskan melalui berbagai media (blog, majalah internal, jurnal, dan sebagainya)

Pelatihan ini dipandu sepenuhnya oleh Putu Laxman Pendit, PhD, Dosen Universitas Indonesia dan diselenggarakan selama 3 hari dari tanggal 21 s/d 23 November 2006 diikuti sebanyak 18 orang dari berbagai bidang di lingkungan PDII LIPI.

Hasil kegiatan pelatihan adalah artikel yang ditulis oleh peserta akan dipublikasikan di website atau blog yang akan dibangun oleh panitia sebagai penghargaan kepada penulis dan wujud nyata keseriusan peserta dalam mengikuti pelatihan. Seluruh tulisan sengaja dibuat secara ringkas yang mengangkat persoalan-persoalan yang barangkali selama ini terkesan “biasa-biasa” saja dari tempat kerja masing-masing peserta. (jaen)

(RENUNGAN SETIAP INSAN)

1. Apakah selama ini anda merasakan bahwa semua yang anda kerjakan dalam hidup semata anda persembahkan untuk Allah SWT. atau untuk kepentingan lain?
2. Apakah anda yakin semua yang anda lakukan di dunia ini akan memberikan anda kehidupan yang terhormat di akherat kelak?
3. Pernahkan anda merasakan bahwa agama yang anda anut selama ini adalah sebuah pilihan hidup yang anda putuskan melalui suatu proses pencarian dan perenungan yang panjang, atau sekedar sebuah warisan sosial yang lebih banyak mengatur sisi ritual hidup anda?
4. Apakah selama ini anda merasa bahwa pekerjaan anda di kantor merupakan sebuah rangkaian ibadah anda kepada Allah SWT, seperti yang anda rasakan ketika anda melakukan salat lima waktu?
5. Mengapa menurut anda Allah SWT. tidak memberitahukan kepada kita sebagai manusia jadwal kedatangan ajal kita?
6. Kalau anda diberi pilihan, anda umur berapa anda merasa tepat meninggal dunia? Mengapa?
7. Jika sekarang anda meninggal dunia, apakah anda merasa sudah siap dan akan cukup tenang menghadapinya?
8. Jika sekarang anda meninggal dunia, apakah anda cukup yakin bahwa bekal amal anda sudah memadai mengantar anda menuju surga?
9. Jika sekarang anda meninggal dunia, apakah suasana yang anda bayangkan akan anda temui di alam barzah (kubur)? Pernahkan anda membayangkan situasi itu sebelumnya?
10. Jika sekarang anda meninggal dunia, apa yang menurut anda akan membuat orang lain di dalam keluarga anda atau di lingkungan kantor anda menangisi kepergian anda? Apakah anda mempunyai jasa tertentu yang menurut and akan membuat mereka kehilangan dengan kepergian anda?
11. Jika sekarang anda meninggal dunia, dosa-dosa apakah yang telah anda lakukan kepada Tuhan yang sangat anda inginkan untuk diampuni supaya tidak mendapatkan siksa kubur karenanya?
12. Jika sekarang anda meninggal dunia, kesalahan-kesalahan apakah yang telah anda lakukan kepada orang lain di dalm keluarga, atau di lingkungan kantor, atau di lingkungan pergaulan masyarakat yang sangat anda inginkan untuk dimaafkan, tetapi tidak sempat anda sampaikan kepada mereka?
13. Jika sekarang anda meninggal dunia, rencana-rencana kebaikan apakah yang telah anda buat dan belum sempat anda selesaikan?
14. Jika sekarang anda meninggal dunia, apakah menurut anda ada orang-orang tertentu yang merasa senang dengan kepergian anda? Siapa sajakah mereka? Mengapa menurut anda mereka senang?
15. Jika anda diberi kesempatan kedua kembali ke dunia setelah kematian, perbaikan-perbaikan apa saja yang akan anda lakukan dalam hidup anda? Bisakah anda merincinya? Mengapa menurut anda perbaikan-perbaikan itu harus anda lakukan?.

Oleh: M. Djaenudin 

Dalam situasi yang masih kurang menguntungkan begini, marilah kita mencari solusi agar tetap bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Menekuni hobi sebagai pekerjaan memang gampang-gampang susah. Kedati demikian kondisi sulit seperti sekarang, sangat perlu kita menekuni pekerjaan sebagai hobi. Manfaatnya adalah untuk mengurangi beban stress atau sekedar refreshing dari rutinitas kerja yang sering menjemukan. Lebih dari itu memang kadang hidup tidak selalu berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Barangkali ada yang telah memiliki segala hal, modal dan peluang ekonomi, tetapi bila keberuntungan tidak di tangan, tidak dapat menjamin bahwa keberhasilan pasti ada di tangan kita.

Oleh sebab itu bila dapat menggiring pekerjaan menjadi hobi, jelas akan lebih baik, karena tidak lagi kita merasa menjadi budak dari pekerjaan. Agar pekerjaan menjadi sesuatu yang mengasyikkan, anggaplah pekerjaan sebagai ladang amal pengabdian kepada Allah Swt., sehingga bermanfaat bagi orang banyak. Tentu saja setiap kali melangkah harus didasari niat yang tulus dan ikhlas. Jadi dalam hal ini tugas kita yang utama adalah berjuang, bukan hanya untuk meraih sukses belaka tetapi untuk melakukan hal-hal yang baik sebagai manifestasi beribadah kepada Allah Swt.

Pekerjaan yang telah menghobi bila didasari oleh passion (nafsu), minat atau bakat, meski relatif akan mengalami pasang surut yang terlalu tajam, mudah-mudahan tidak menimbulkan masalah besar. Apalagi bila kegiatan atau pekerjaan itu hasilnya bukan untuk dipuji, dihargai bahkan dibalas budi orang lain atau lembaga tempat kita berkerja.

Semoga Allah Swt. memberi yang lebih dari yang kita harapkan. Bukankah tidak ada artinya kesuksesan dunia bila tidak diridhai Allah. Dan jangan lupa bahwa kebaikan adalah dasar dari sebuah reputasi. Juga milikilah kemurahan hati karena di situlah sumber kehidupan. Dan hanya Allah jua lah lautan ampunan dan samudera rejeki. Karenanya jangan berhenti untuk memohon/berdoa kepada-Nya di setiap usai sholat kita. Wallahu a’lam.

FOKUSKU BANGKITLAH !!!

November 24, 2006

Oleh: M. Djaenudin 

Seberkas sinar yang dulu bercahaya, kini redup ditelan zaman. Mampukan bersinar kembali?

Salah satu tugas PDII adalah menyebarkan infomasi ilmiah kepada masyarakat. Terkiat dengan tugas tersebut PDII sejak lama menerbitkan sebuah kemasan informasi yang beri judul Fokus. Terbitan terdiri dari 16 bidang ilmu pengetahuan seperti biologi, kimia, lingkungan, farmasi, kesehatan, teknologi pangan dan lain-lain. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk katalog dan dilengkapi abstrak. Sampai saat ini penyebarannya masih belum optimal, terbukti dengan sedikitnya para pelanggan. Padahal informasinya boleh dikatakan cukup menarik bagi masyarakat ilmiah, seperti para dosen, peneliti, dan sebagainya. Mungkin karena faktor pemasarannya yang masih kurang. PDII jarang melakukan pemasaran ke berbagai kalangan. Paling banyak memasarkan ketika ada pameran atau melalui penawaran ke perguraan tinggi dan instansi terkait.

Sebetulnya manfaat terbitan ini adalah kita dapat mengetahui informasi terbaru dari berbagai sumber informasi, yang ditulis dari berbagai jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, maupun makalah ilmiah. Meskipun hanya abstraknya saja yang disajikan namun kita bisa mengetahui materi atau pokok bahasan yang ditulis dalam informasi fokus tersebut sehingga jika pelanggan menghendaki tulisan tersebut secara full teks bisa memesan kembali ke PDII untuk difotokopi dan dikirimkan baik melalui pos, faksimile maupun e-mail.

Dari pengamatan selama ini, pelanggan menginginkan informasi dalam Fokus sebaiknya disajikan dengan full teks, sehingga tidak bolak-balik untuk memasan. Barangkali faktor inilah sebagai kendala mengapa terbitan Fokus ini kurang diminati para pelanggan. Karena informasi yang disajikan hanya memancing supaya dokumennya difotokopi.Padahal keinginan pelanggan mungkin banyak yang menghendaki supaya informasi bisa dikemas secara lengkap.

Banyak informasi yang disajikan dalam terbitan fokus tetapi saat ini peminatnya sedikit. Hal ini saya kira sangat disayangkan, karena sudah banyak tenaga, pikiran dan lain-lain yang dikeluarkan , namun manfaat kepada publik masih sangat minim. Pada waktu mendatang harus ada inovasi baru dalam mengemas informasi, apakah dengan menerbitkan fokus ini secara lengkap atau dengan sarana lain yang disajikan dengan lebih menarik dan efisien. Mungkin dengan menampilkan di Internet barangkali akan lebih optimal manfaatnya, karena Internet banyak membantu kita dalam segala hal terutama bagi masyarakat ilmiah.

Saya yakin, ini peluang sekaligus tantangan bagi pengelola PDII untuk lebih bersaing dengan sumber informasi lain.Kita berharap semoga kemasan informasi yang kian redup, kini bercahaya kembali dengan inovasi baru.

MEMBACA, OH MEMBACA …

November 24, 2006

Oleh: M. Djaenudin 

Sejak 14 abad silam membaca sudah diperintah Tuhan kepada umatnya dan idealnya bangsa yang berpenduduk muslim terbesar di dunia melaksankan perintah ini. Pada kenyataannya ayat ini kurang diindahkan. Masih kurang pahamkah??

Kebiasaan membaca di suatu negara merupakan cerminan tingkat kemajuan sebuah bangsa. Sebab dengan membaca dapat meningkatkan nilai tambah seseorang menjadi berwawasan yang luas, ilmu pengetahuan bertambah, dan bijak dalam bertindak. Salah satu cara mengukur tingkat perkembangan kebiasaan membaca yaitu dengan melihat banyaknya perpustakaan dikunjungi oleh penggunanya. Sayangnya keberadaan perpustakaan di masyarakat belum banyak memberi pengaruh untuk mendorong gemar membaca. Artinya kesadaran masyarakat masih kurang dalam memahami arti penting sebuah perpustakaan. Pantas saja perpustakaan belum menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita.

Seyogyanya mengenal perpustakaan lebih menyentuh pada gemar hidup berperpustakaan di mulai dengan membuat perpustakaan pribadi di rumah. Sebab bila seseorang di rumahnya memiliki perpustakaan pribadi hampir dipastikan orang tersebut gemar membaca. Menurut saya, budaya gemar membaca adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan harus diperjuangkan oleh setiap didirikannya sebuah perpustakaan. Sebab salah satu tujuan didirikan perpustakaan adalah membentuk masyarakat menjadi gemar membaca. Sehingga tujuan pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud. Kita menyadari, bahwa saat ini pemerintah sedang giat-giatnya mengkampanyekan peningkatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka menghadapi tantangan global.

Sebagai fakta, pola kebiasaan membaca bagi masyarakat kita memang diakui semakin hari semakin menunjukkan grafik meningkat dalam segi kuantitas. Namun sayangnya situasi menggembirakan ini tidak diimbangi dengan kualitas. Mungkin penyebabnya adalah banyak media saingan seperti TV swasta yang telah menyedot waktu luang masyarakat kita. Jangankan anak-anak, orang dewasa juga lebih senang menghabiskan waktunya berjam-jam di depan kotak ajaib yang menampilkan acara-acara “menarik”.

Melihat fenomena di atas sungguh sangat memprihatinkan, bagaimana mungkin bangsa ini maju kalau masyarakatnya banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia? Padahal banyak masalah yang dihadapi bangsa kita dari krisis moneter, birokrasi yang amburadul, pejabat yang korup, dekadensi moral, bencana di mana-mana, dan sebagainya. Rasa-rasanya sudah lengkap penderitaan kita sebagai bangsa.

Pantaslah kita terpuruk terus dalam kondisi yang serba tidak mengenakkan. Semua berawal tidak mengindahkan perintah Tuhan yaitu membaca. Cobalah lihat di sekeliling: di gang-gang kecil, pos ronda, dan tempat lain, apakah orang-orang berkumpul mereka untuk membaca? Tidak. Mereka bermain gitar, gaple, ngobrol ngalor ngidul nggak karuan. Lalu apa yang diharapkan dari mereka? Membaca, oh membaca.